Tuesday, 4 April 2017

Perpustakaan Unsyiah, Melawan Rezim Warung Kopi

( warung kopi dalam lingkungan pustaka unsyiah
credit : Nur Fajri Aldi)

(Oleh : Fadhli Espece[1])


Di era globalisasi seperti sekarang ini, dimana internet menguasai singgasana dunia informasi, keberadaan perpustakaan sebagai gudang ilmu cukup terancam. Internet mampu menyajikan hampir semua jalan akses pengetahuan dalam waktu yang singkat, dari informasi dan berita, buku sampai dengan cerita-cerita hoax. Kesemuanya didukung penuh oleh jejaring media sosial seperti facebook, twitter, instagram dan lain-lain yang kini telah menjadi tuhan baru bagi manusia abad ke-21.

Dalam konteks Aceh yang hingga saat ini masih menjadikan warung kopi sebagai pusat peradaban, dimana orang-orang rela menghabiskan sebagian usianya didalamnya telah menyediakan jaringan wifi dengan koneksi internet secara cuma-cuma. Celakanya durasi waktu yang dihabiskan di warung kopi—dominannya oleh para pemuda—jauh lebih besar dari kunjungannya ke pusat-pusat keilmuan.

Beberapa waktu yang lalu salah seorang rektor kampus islam di Aceh memberikan ultimatum bahwa sebagian besar pemuda menghabiskan waktu siang dan malam di warung kopi, menurutnya ini merupakan musibah yang lebih besar dari bom atom di Jepang. Meskipun mendapat banyak kecaman, ungkapan tersebut juga ada benarnya karena hanya segelintir pemuda yang benar-benar memanfaatkan fasilitas yang disediakan oleh warung kopi ke arah yang produktif seperti tempat diskusi, menyelesaikan tugas dan ruang bersosialisasi. Selebihnya hanya tempat bermain game online, berselancar di media sosial dan yang paling celaka ada oknum yang  berupaya menjadikannya sebagai tempat transaksi haram seperti narkoba dan perjudian, baik klasik maupun modern.

Untuk menghadapi situasi yang sulit seperti ini, tentu perpustakaan harus memiliki daya tarik untuk memikat para pengunjung. Perpustakaan unsyiah sebagai salah satu gudang ilmu memiliki peluang besar untuk melawan rezim warung kopi ini dengan menawarkan ide kreatif dan progresif dalam pelayanan dan fasilitasnya kepada para pengunjung setianya. Bagaimana upaya sebuah pustaka di Aceh dapat mengejar ketertinggalan jumlah pengunjung warung kopi. Meskipun tidak selalu warung kopi dapat disematkan dengan konotasi negatif. Harus diakui memang sebagian warung kopi  juga memiliki peran dan ikut andil dalam membuka ruang diskusi dan tukar gagasan meskipun itu minim dan sangat terbatas.

Peluang besar yang dimiliki perpustakaan unsyiah untuk melakukan perlawanan ini dapat dilihat dari sisi perkembangannya yang cukup signifikan. Data pengunjung pustaka menunjukkan peningkatan yang cukup membanggakan sejak tahun 2012 sampai dengan 2016. Bahkan dalam 2 tahun terakhir kenaikan jumlah pengunjung sangat drastis. Tahun 2015 jumlah pengunjung pustaka unsyiah mencapai 303.953 orang. Peningkatan yang sangat membanggakan terjadi pada tahun 2016 yang menembus angka 411.426 orang. Penambahan jumlah pengunjung sebanyak 107.473 orang pada tahun 2016 merupakan angin segar bagi masa depan dunia pendidikan Aceh. Ini belum lagi dilihat dari tren positif jumlah peminjam buku dan buku yang terpinjam dari tahun ke tahun yang selalu mengalami peningkatan. Hal ini tidak terlepas dari kinerja dan terobosan-terobosan baru dari pihak pengurus perpustakaan.[2]

Indikator penting yang membuat perpustakaan unsyiah semakin digandrungi pemustaka adalah pelayanan dan fasilitas. Dua hal tersebut sangat berpengaruh pada tingkat kepuasan pelanggan. Terkadang sebagian perpustakaan di tempat-tempat lain menganggap remeh hal-hal kecil dan bersifat teknis. Hal-hal yang sepele seperti kursi, meja, mesin pencari/identifikasi keberadaan buku, loker tas, tidak terganggunya arus listrik sering diabaikan padahal ia patut  menjadi perhatian yang serius.

Misalnya salah satu perpustakaan besar di Yogyakarta sangat memperhatikan kualitas kursi dan meja. Bahkan pustaka tersebut meyediakan kursi busa empuk yang juga didukung dengan karpet tebal demi kenyamanan pemustaka. Ditambah lagi akses pencarian data buku secara online, jadi pemustaka sudah dapat mengidentifikasi keberadaan buku, dimana letaknya, rak yang sebelah mana, berapa sisa stock buku, apakah sudah terpinjam atau belum, sejak dari rumah sebelum berangkat ke perpustakaan.
sumber : www.google.com


Terkadang keberadaan ruang melepas kejenuhan menjadi nilai plus dan memiliki daya tarik tersendiri, perpustakaan unsyiah sudah memikirkan hal ini. Adakalanya rasa bosan dan kejenuhan menyerang niat baik pemustaka, hal ini sangat sering terjadi. Untuk menghindari pengunjung meninggalkan pustaka karena bosan, ruang kejenuhan ini dapat menjadi solusinya. Misalnya ruang olahraga seperti tenis meja dan lain-lain ataupun ruang kesenian yang dapat digunakan untuk film, teater dan aktivitas lainnya.

Artinya perpustakaan harus tampil melampaui apa yang telah difasilitasi oleh pusat keramaian seperti warung kopi. Apa yang membuat orang betah nongkrong di warung kopi selama berjam-jam juga harus diadopsi oleh perpustakaan. Sehingga perpustakaan tidak hanya berisi dengan deretan buku yang terapit oleh meja yang dikelilingi kursi. Ianya tidak lagi diartikan dengan sebuah gedung atau ruang sunyi kedap suara tapi juga dapat mengakomodir serta menfasilitasi kegiatan positif seperti ruang teater atau diskusi yang merangsang generasi muda agar berani untuk bersuara. Perpustakaan tidak lagi dimaknai sekedar ruang internalisasi akademik tapi juga fasilitator untuk menyalurkan ide dan gagasan yang berisi.




[1] Penulis adalah peminat kajian sosial-politik dan filsafat, penikmat sastra, seni dan budaya. Pegiat muda di Rumoh Pink Institute sedang berdomisili di Yogyakarta.

[2] http://library.unsyiah.ac.id/kinerja-perpustakaan-unsyiah-tahun-2016-meningkat/
No comments:
Write komentar

© 2016 Bandrek. Designed by Bloggertheme9 & Distributed by MyBloggerThemes